Ulasan Film: ‘The Secret: Suster Ngesot Urban Legend’

Abadikini.com – Raffi Ahmad sungguh bernyali. Bersamaan dengan euforia dan perilisan Avengers: Infinity War, ia melalui perusahaan filmnya, RA Pictures merilis film horor, The Secret: Suster Ngesot Urban Legend. 

Film itu jadi karya kedua Raffi setelah sebelumnya rilis dengan Rafathar (2017). Kali ini, Raffi menggandeng sutradara Arie Aziz untuk menggarap film yang sejatinya pernah Arie buat sebelumnya. Bahkan Raffi dengan berani ikut duduk sebagai sutradara.

Pada 2007, Arie membuat film serupa bertajuk Suster Ngesot The Movie yang menggandeng Nia Ramadhani. Kala itu, di bawah MD Pictures, film tersebut sanggup menjual 768 ribu tiket dan masuk ke peringkat ke-lima film terlaris di tahun tersebut.

Kini, Raffi menyodorkan istrinya sendiri Nagita Slavina dan temannya, Marshanda kepada Arie untuk bermain dalam film tersebut.

Kisah The Secret dengan karya Arie sebelumnya juga tak banyak perbedaan, sama-sama soal suster yang dibunuh tak wajar lalu arwahnya gentayangan. Untuk menambah bumbu, The Secret pun diberi drama soal cinta.

Meski kisah film soal hantu yang disebut suster ngesot cenderung sama dan dikenal luas, The Secret gagal untuk membuat legenda urban itu jadi kekuatan yang menguntungkan. The Secret banyak memiliki alur cerita tak masuk nalar.

Kisah film ini bermula Kanaya (Nagita Slavina) yang merupakan anak seorang hartawan (Roy Marten) baru pulang ke Indonesia setelah sekolah di Melbourne. Namun ia terkejut, ayahnya yang tajir itu ternyata memiliki istri muda seumuran dirinya.

Tak kuasa menerima kondisi itu, Kanaya memutuskan melarikan diri ke vila keluarganya di pinggiran Jakarta. Ia diikuti oleh kekasihnya, Teddy (Raffi Ahmad). Namun di tengah perjalanan, Kanaya mengalami kecelakaan. 

Ketika tersadar, Kanaya berada di sebuah rumah sakit tua di pinggiran Jakarta. Ia dibawa ke sana oleh Teddy. Namun bukannya sembuh, Kanaya merasa dihantui oleh sosok suster ngesot di rumah sakit tersebut. 

Hantu itu bahkan terus mengikutinya hingga ia pulang ke vila. Demi mengalihkan ketakutannya, Kanaya kerap bermain dengan anak dari tetangganya, Lala yang memiliki indra keenam dan Marsha (Marshanda). Namun teror si suster ngesot itu terus menghantui Kanaya.

Mengangkat kisah legenda masyarakat urban memang butuh strategi matang, salah siasat justru akan membuat film amat membosankan. Salah satu strategi yang memungkinkan dilakukan adalah memainkan alur cerita. 

Tapi tampaknya penulis Demas Garis dan Talitha Tan terlalu asyik memainkan cerita hingga lupa akan logika yang mengalir dalam film ini. Pun Arie dan Raffi yang duduk di bangku sutradara abai dalam memperhatikan hal tersebut. (ak/cnn)

Baca Juga